Leave a comment

Filed under Uncategorized

budidaya lele dengan terpal

saya bukanlah seorang juragan ataupun orang yang pintar dalam budidaya lele, lewat tulisan ini saya akan membagi pengalaman saya yang baru aja memulai budidaya ikan lele. niat saya pengin budidaya lele sudah ada ketika saya masih dijogja, kemudian ketika saya pulang kampung ke rumah (Brebes) saya pengin mempraktekan teori-teori atau perencanaan-perencanaan yang sudah aku siapkan ketika dijogja.

dengan modal utang 900.000 sama sahabatku (Otong Sugiarto), saya beranikan diri untuk bener-bener serius berbudidaya lele.  awal yang harus dilakukan adalah memikirkan segala sesuatu yang nantinya dibutuhkan. seperti; pakan, bibit lele, terpal dan kerangkanya, air dan lainnya. untuk pakan saya menggunakan pelet 871-1 hyprofit dan tambahannya saya mencoba menternak cacing tanah dan sisa-sisa dari pedagang ayam. kemudian untuk bibit lele, berhubung saya rumahnya brebes, maka saya nyarinya disekitar kabupaten brebes, seperti di sitanggal, ketanggungan, lebih banyak lagi di pasar sore Tegal. kemudian saya melakukan perancangan kerangka terpal, agar kita tahu berapa meter terpal yang harus dibeli. kerangka terpal saya berukuran 2X2  atau 4meter persegi dan tinggi 1meter. sedangkan terpalnya berukuran 5X6 (gede bgt sisa banyak).  kemudian terpal dipasang pada kerangka yang sudah dibuat.

kalo kolam terpal sudah jadi jangan lupa dikasih air dan dikasih EM4 dan didiamin selama 1 minggu agar tumbuh lumut atau makanan alami. setelah itu baru dikasih ikan lele. terus pemberian makannya 3 kali setiap pagi sore malam sekitar jam 10an, siang boleh dikasih makan tapi jangan banyak-banyak.

Rincian Harga:

Bibit lele : @Rp.235 x 600 ekor = 141.000

Terpal 5X6 = 30 X Rp.4.600/m = 138.000

Pelet 871-1 = 8.000/kg X 5kg = 40.000

Kayu = terserah anda cari aja yang murah

Silahkan total sendiri, segitulah habisnya.

cukup sekian doakan saya semoga sukses memanen lelenya, (perkiraan bulan maret 2010 panen) dan bagi anda selamat mencoba.

ehya lupa, EM4 untuk air, kalo kolamnya seukuran saya cukup seperempat aja, nanti kalo air dah bau banget atau kotor baru dikasih lagi. bisa dibeli ditoko-toko peternakan, perikanan dan pertanian.

2 Comments

Filed under Uncategorized

Saran Untuk Temanku

terkadang aku kasihan ketika melihat teman seperjuangan terklantung klantung tak jelas arahnya. udah kuliahnya brantakan, kerjaannya juga cuma gitu-gitu terus, pokoknya kalo aku nilai hidupnya seakan tak bermanfaat dan tak bermakna, karena ya kesehariannya cuma nongkrong diwarung, udud, ngobrol-ngobrol yang nggak jelas lagi.
ayolah kawan semangat kita udah semester delapan, masa wisuda kita keduluan adek kelas kita sih.

Leave a comment

Filed under kehidupan, kuliah, teman

Perjalanan Kurikulum Nasional

Perjalanan Kurikulum Nasional

(dari Kurikulum 1947-1994, KBK, sampai KTSP)

Kurikulum apa saja yang pernah dikembangkan dalam program pendidikan di negeri tercinta Indonesia. Salah satu konsep terpenting untuk maju adalah “melakukan perubahan”, tentu yang kita harapkan adalah perubahan untuk menuju keperbaikan dan sebuah perubahan selalu di sertai dengan konsekuensi-konsekuensi yang sudah selayaknya di pertimbangkan agar tumbuh kebijakan bijaksana. Ini adalah perkembangan Kurikulum Pendidikan Kita

SELAYANG PANDANG

Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

RENCANA PELAJARAN 1947

Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.  Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

RENCANA PELAJARAN TERURAI 1952

Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang, Riau. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

KURIKULUM 1968

Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,” katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.

KURIKULUM 1975

Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

KURIKULUM 1984

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.

KURIKULUM 1994 dan SUPLEMEN KURIKULUM 1999

Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan. Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.

KURIKULUM 2004

Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum. (sumber: depdiknas.go.id)

KTSP 2006

Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan.
Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.

Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:

1.    Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

2.    Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

3.     Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

4.    Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

5.    Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan, mulai dari tujuan, visi – misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, hingga pengembangan silabusnya.

Leave a comment

Filed under Artikel

Pilpres 2009

saya percaya bahwa semua calon presiden RI baik dan pintar-pintar. tapi coba buktikan nanti ketika salah satu dari mereka jadi presiden.apakah bener-bener baik?dan apakah bener-bener pintar ngurusi negara milik orang banyak?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

RESUM BUKU

Sistem Informasi Manajemen Pendidikan

Penulis :

 Dr. Eti Rochaety

Ir. Pontjorini Rahayuningsih, M. Pd

Dra. Prima Gusti Yanti, M. Hum.

Oleh : Dennis Haruna

Jurusan Kependidikan Islam

Fakultas Tarbiyah

Universitas Islam Negeri Yogyakarta

PENGANTAR

Dalam buku Sistem Informasi Manajemen Pendidikan karya Dr. Eti Rochaety dan Ir. Pontjorini Rahayuningsih, M. Pd, Serta Dra. Prima Gusti Yanti, M. Hum menjelaskan bahwa solusi yang paling tepat dalam mengelola lembaga pendidikan supaya mampu bersaing di pasar kerja adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran yang mengadopsi praktik manajemen yang dipadukan dengan kemajuan teknologi informasi.

Munculnya lembaga pendidikan yang mengatasnamakan lembaganya ”terpadu” adalah mereka (lembaga) yang sudah mapan dalam pengelolaan manajemen lembaga dengan baik. Untuk menciptakan output (lulusan) yang unggul lembaga pendidikan harus mempunyai visi misi atau strategi manajemen pendidikan yang berfokus atau berorientasi ke masa depan.

Teknologi informasi dalam manajemen pendidikan sangat di butuhkan mengingat perkembangan zaman yang sudah semakin maju, untuk itu supaya lebih jelas bacalah buku ini dengan baik dan teliti. Semoga bermanfaat.

BAB I PENDAHULUAN

Halaman 1 – 13

Era baru dalam dunia pendidikan adalah diperkenalkannya reformasi pendidikan yang berkaitan erat dengan sistem informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan dunia pendidikan. Informasi merupakan satu-satunya sumber yang dibutuhkan seorang pimpinan lembaga pendidikan. Informasi diolah dengan menggunakan komputer dapat di gunakan oleh seorang pimpinan organisasi dengan keahlian yang dimiliki sebagai sarana komunikasi dan pemecahan masalah, serta informasi yang sangat berharga dalam proses pengambilan keputusan.

  1. KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN

Lembaga pendidikan di Indonesia merupakan organisasi yang memiliki orientasi ganda yaitu organisasi yang berorientasi sosial dan orientasi bisnis. Dunia pendidikan Indonesia harus secepatnya berbenah diri dalam meningkatkan sistem informasi guna menunjang daya saing SDM yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut. Sistem informasi yang akan diciptakan harus seimbang antara infrastruktur teknologi yang tersedia dengan kemampuan SDMnya sehingga tidak terjadi ketimpangan yang sangat jauh, dan sistem informasi tidak dapat terwujud secara signifikan dalam menunjang kuantitas maupun kualitas pendidikan secara mendasar.

  1. PENGERTIAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN

Sitem adalah seperangkat unsur yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam satu lingkungan tertentu (Ludwig, 1997).  Pengertian lain Sistem adalah sekumpulan elemen yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan (A. Rapoport, 1997).

Informasi yaitu sebuah pernyataan yang menjelaskan suatu peristiwa (suatu objek atau konsep) sehingga manusia dapat membedakan sesuatu dengan yang lainnya (Samuel Elion, 1992).

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan antar anggota organisasi dengan menggunakan seluruh sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Stoner AF, 1998).

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (1989). Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (proses, perbuatan dan cara mendidik).

Sistem informasi manajemen pendidikan merupakan perpaduan antara sumber daya manusia dan aplikasi teknologi informasi untuk memilih, menyimpan, mengolah, dan mengambil kembali data dalam rangka mendukung proses pengambilan keputusan bidang pendidikan. Pengertian lain sistem informasi manajemen pendidikan adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen (perencanaan, penggerakan, pengorganisasian, dan pengendalian) dalam bidang pendidikan.

BAB 2 TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK KEUNGGULAN BERSAING LEMBAGA PENDIDIKAN

Halaman 14 – 26

  1. LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Dalam sebuah lembaga pendidikan memiliki komponen-komponen yang diperlukan untuk menjalankan operasional pendidikan, seperti siswa/mahasiswa, sarana dan prasarana, struktur organisasi, proses, sumber daya manusia (tenaga pendidik), dan biaya organisasi. Sistem informasi terbentuk dari komponen-komponen perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan perangkat manusia (brainware. ) dalam teori manajemen untuk menjalankan sebuah lembaga pendidikan, strategi lembaga pendidikan dan sisten informasi harus saling mendukung sehingga dapat menciptakan keunggulan bersaing lembaga pendidikan yang bersangkutan.

  1. TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENDORONG KEUNGGULAN BERSAING LEMBAGA PENDIDIKAN

Untuk mengidentifikasi daya saing lembaga pendidikan yang marketable dan sellable, ada beberapa kekuatan yang harus menjadi prioritas perhatian para pengambil kebijakan lembaga pendidikan karena adanya para pesaing lembaga pendidikan yang secara ofensif dan defensif menggunakan teknologi informasi. Strategi sistem informasi lebih menekankan kepada sisi permintaan dari lembaga pendidikan yang memerlukan sistem informasi manajemen pendidikan untuk dapat menjamin terciptanya aliran informasi yang efektif dan berkualitas. Stratewgi manajemen informasi memberikan gambarean mengenai cara yang ditempuh agar target pengembangan dan implementasi sistem informasi manajemen pendidikan tidak sebatas wacana tetapi menjadi kenyataan dan berorientasi kepada teknik manajemen yang akan dipergunakan oleh setiap lembaga pendidikan yang bersangkutan.

  1. MENCIPTAKAN KEUNGGULAN BERSAING LEMBAGA PENDIDIKAN

Salah satu fasilitas yang ditawarkan oleh teknologi informasi dalam dunia pendidikan adalah pembentukan jaringan komunikasi antar lembaga pendidikan, yaitu bekerja sama untuk menghadapi lembaga pendidikan yang lebih baik. Ada tiga jenis jaringan yang bisa dibentuk dalam jaringan komunikasi antar lembaga pendidikan yaitu, intranet (jaringan internal lembaga pendidikan yang menghubungkan antara kantor pusat dan kantor cabang yang terpisah secara geografis, baik lokal maupun regional), internet (jaringan komputer publik yang berpotensi sebagai penghubung lembaga pendidikan dengan para pengguna program pendidikan atau calon siswa atau mahasiswanya), dan ekstranet (jaringan yang dibangun sebagai alat komunikasi antar lembaga pendidikan dan lembaga pendukunyan, seperti departemen pendidikan, pemerintah, dan dunia usaha).

  1. TEKNOLOGI INFORMASI SEBAGAI ASET UTAMA LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM JANGKA PANJANG

Ada tiga kunci utama yang mendukung teknologi nformasi untuk djadikan aset lembaga pendidikan dalam jangka panjang, yaitu sebagai berikut.

1, Sumber daya manusia, yaitu para staf penanggung jawab perencanaan dan pengembangan teknologi informasi pada sebuah lembaga pendidikan.

2, Tekonologi, deluruh infrastruktur teknologi informasi

3, Relas,yaitu hubungan teknologi informasi dengan pihak manajemen lembaga pendidikan sebagai pengambil keputusan.

BAB 3 STRATEGI MANAJEMEN PENDIDIKAN

YANG BERFOKUS MASA DEPAN

Halaman 27 – 72

  1. STRATEGI PENDIDIKAN NASIONAL DALAM MENGHADAPI LINGKUNGAN GLOBAL

Aspek organisasi manajemen memang tidak dipisahkan dari rumusan tentang substansi dan metodologi pendidikan sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.

  1.  Strategi umum pendidikan Nasional

      Starategi umum pendidikan untuk menjawab isu pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan dituangkan aspek penting yaitu pertama tentang demokratisasi pendidikan sebagai konsep, kedua ditampilkan kelompok sasaran khusus sebagai konsekuensi dari demokrasi.

  1. Strategi pokok pembangunan pendidikan Nasional

      Dalam merealisasikan strategi pokok pembangunan pendidikan, sedikitnya terdapat lima strategi pokok pembangunan pendidikan nasional yaitu,

Strategi Mengatasi dampak krisis ekonomi terhadap pendidikan, Startegi perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan, Strategi peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, Strategi pengembangan sistem dan manajemen pendidikan dan Strategi pemberdayaan kelembagaan pendidikan

  1. Karateristik strategi pendidikan

Misi dasar pola pendidikan yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat, harus memiliki karakteristik khusus, yaitu sebagai berikut.

Pengutamaan kemampuan dasar, Penguasaan kompetensi umum, Penyelenggaraan program studi dengan kualifikasi yang dapat dipasarkan, Pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap teknologi informasi, Pendidikan agama, moral dan budi pekerti, Pendidikan multikultural dan perdamaian

  1. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDUKUNG PENGEMBANGAN STRATEGI PENDIDIKAN
  2. Pembenahan struktural

Otonomi dan akuntabilitas, Strategi pendanaan, Sumber daya manusia dan Diferensiasi

  1. Peningkatan kualitas dan relevansi

Isu-isu strategis yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan strategi pendidikan nasional adalah sebagai berikut.

Peningkatan dan penjaminan kualitas, Keterampilan menulis dikalangan tenaga pengajar dan Relevansi penyediaan dan perluasan akses ke pendidikan tinggi

  1. MASALAH-MASALAH YANG DIHADAPI PENDIDIKAN NASIONAL

Perkembangan dunia pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal.

  1. Faktor Internal

Dampak manajemen yang sentralistik, Mekanisme pendanaan oleh pemerintah, Manajemen dan organisasi, Sumber daya manusia

  1. Faktor Eksternal

Globalisasi, Perkembangan ekonomi nasional, Poltik, Sosial budaya,Teknologi

  1. MEMBANGUN SISTEM PENDIDIKAN YANG BERBUDAYA DI ERA GLOBALISASI

Langkah-langkah strategis sistem pendidikan, antara lain sebagai berikut.

  1. Maningkatkan efisiensi dan efektifitas manajemen pendidikan, baik pada tingkat mikro maupun tingkat makro.
  2. Menciptakan kelembagaan agar daerah mempunyai peranan dan keterlibatan yang lebih besar dalam penyelenggaraan pendidikan.
  3. Mendorong peran serta masyarakat termasuk lembaga sosial kemasyarakatan dan dunia usaha sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan dan penyelenggaraan pendidikan.
  4. Ada sistem pendidikan nasional, terutama pendidikan keagamaan yang mengelola sekolah dasar Islam yang sebagian besar dikelola oleh lembaga sosial kemasyarakatan termasuk pendidikan pesantren.
  5. Menyediakan fasilitas yang memadai agar peserta didik tumbuh dan berkembang secara sehat, dinamis, kreatif, dan produktif.
  6. Menciptakan sistem pendidikan yang proaktif dan fleksibel.
  7. menciptakan suasana dan proses belajar mengajar yang mampu membangkitkan dan mengembangkan kreativitas, inovasi, serta minat dan semangat belajar.
  8. menanamkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi sejak dini di tingkat sekolah dasar dalam rangka menumbuhkan budaya iptek.

Bab 4 TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Halaman 73 – 95

  1. GELOMBANG INOVASI TEKNOLOGI

Menurut Budi Sutedjo (2002: 49) gelombang teknologi informasi yang berbasis internet berkembang melalui beberapa tahapan sebagai berikut :

  1. gelombang pertama, TI difokuskan untuk peningkatan produktivitas dan memperkecil biaya.
  2. gelombang kedua, TI difokuskan untuk meningkatkan efektifitas penggunaan peralatan komputer melalui pembangunan jaringan komputer.
  3. gelombang ke empat, TI difokuskan untuk membantu proses pengambilan keputusan dari data kualitatif.
  4. gelombang ke lima, TI difokuskan untuk meraih pelanggan melalui pengembangan jaringan internet
  5. ke enam, TI difokuskan untuk mengembangkan sistem jaringan tanpa kabel.
  6. MENYAMBUT TEKNOLOGI INFORMASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Lembaga pendidikan melihat bahwa TI sebagai alat yang sangat menarik untuk membuat operasional organisasi lebih efisien. Tujuannya adalah menghapus posisi penyambung komunikasi dari dua tempat yang berkepentingan, juga menghapuskan batas waktu untuk operasi internasional dengan konsep real time.

  1. MODEL PEMBELAJARAN DENGAN E-LEARNING

Proses pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan e-learning tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan pada umumnya, juga berbeda dengan pola pembelajaran konvensional yang hanya menggunakan metode tatap muka. Proses pembelajaran e-learning adalah perpaduan antara metode tatap muka dengan metode on line (via internet dan berbagai pengembangan teknologi informasi lainnya).

  1. PENDIDIKAN INTERNET BAGI ANAK PRASEKOLAH

Dalam pengembangan pengajaran internet dan multimedia untuk siswa prasekolah, mayoritas lembaga pendidikan tidak mengacu pada Departemen Pendidikan Nasional. Hal ini merupakan kreativitas dan nilai tambah yang di prakarsai para pihak pengelola lembaga pendidikan.

  1. ACTION LEARNING DALAM PENDIDIKAN

Pendekatan action learning paling pas digunakan untuk kebutuhan lembaga pendidikan, misalnya kebutuhan dalam masalah proses pembelajaran, mengidentifikasi peluang penyempurnaan proses pembelajaran, merancang program pembelajaran, dan merealisasikan visi dalam operasional pendidikan.

  1. SINERGI POSITIF DAN NEGATIF SISTEM INFORMASI DAN STRATEGI PENDIDIKAN

Ketidakmampuan sistem informasi pendidikan untuk menyajikan informasi yang dibutuhkan akan membawa dampak terhadap strategi lembaga pendidikan. Dampak yang dihasilkan adalah strategi lembaga pendidikan yang meragukan pengambil keputusan karena disusun berdasarkan informasi yang terbatas dan inilah sinergi negatif yang dihasilkan. Sedangkan sinergi positifnya adalah sinergi antara sistem informasi yang disajikan dengan baik serta pemahaman strategi lembaga pendidikan yang memadai.keduanya akan menghasilkan sebuah strategi lembaga pendidikan yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan.

  1. PENDEKATAN HUMAN-CENTERED DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

Dalam human-centered disebutkan bahwa teknologi dan proses didesain untuk membuat sistem kerja manusia menjadi lebih efektif dan memuaskan. Hal ini mnunjukan bahwa teknologi informasi bukan hal yang sangat pokok dalam penguasaan dana manajemen informasi karena sebagaimana asumsi yang ada dan lebih krusial adalah human –centered karena informasi lebih kompleks, sangat luas, dan tidak mungkin dapat dikendalikan secara komprehensip.

  1. KEAMANAN SISTEM INFORMASI, MORAL, ETIKA DAN HUKUM TEKNOLOGI INFORMASI

Menurut Hary gunarto dalam buku sutedjo terdapat tiga jenis pengendalian data dan informasi meliputi, 1. pengendalian sistem informasi , 2. pengendalian prosedural, dan 3. pengendalian fasilitas. Moral merupakan kebiasaan dalam mempercayai perilaku baik atau buruk. Etika merupakan seraikan petunjuk yang harus di ikutu, memiliki standar atau idealisme yang diterima oleh perorangan, kelompok, atau suatu komunitas teknologi informasi.

BAB 5 APLIKASI TQM DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

Halaman 96 – 128

  1. FILOSOFI TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)

Konsep total quality management (TQM) pertama kali dikemukakan oleh Nancy Warren, seorang behavioral scientist di United States Navy. Istilah TQM mengandung makna every process, every job, dan every person (Lewis & Smith, 1994). TQM didefinisikan sebagai sebuah pendekatan dalam menjalankan usaha yang berupaya memaksimumkan daya saing melalui penyempurnaan secara terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan organisasi.

  1. PILAR TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)

Bill Creech, seorang mantan jenderal berbintang empat berhasil menerapkan berbagai prinsip TQM pada United States Air Force semasa perang Teluk. Prinsip yang digunakannya dikenal dengan istilah lima pilar TQM yang terdiri atas produk, proses, organisasi, pemimpin, dan komitmen (Creech, 1996).

  1. KETERKAITAN TQM DAN QWL DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

Keterkaitan TQM dan QWL (quality of working life) dapat dijelaskan bahwa TQM pada dasarnya adalah QWL sehingga  QWL merupakan kultur berbasis keterlibatan. Dalam QWL terletak sumber utama kesulitan penerapan TQM.  QWL dapat didefinisikan sebagai suatu cara berpikir tentang orang, pekerjaan, dan organisasi dengan elemen-elemen berupa adanya perhatian tentang dampak pekerjaan pada orang-orang/pegawai dan aktivitas organisasi serta gagasan partisipasi dalam pemecahan masalah organisasi dan pembuatan keputusan.

  1. PENERAPAN TQM DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

Kisah sukses implementasi TQM dalam dunia bisnis mengilhami organisasi-organisasi lainnya termasuk organisasi pendidikan untuk mengadopsinya. Penerapan TQM dalam manajemen pendidikan mengundang perdebatan sangat serius. Beberapa pengamat mempertanyakan kelayakan dan kesesuaian konsep TQM dengan karakteristik lembaga pendidikan.

  1. PENDEKATAN KUALITAS LAYANAN JASA PENDIDIKAN

Terdapat dua pendekatan untuk memberikan pelayanan yang bermutu kepada pengguna jasa pendidikan yaitu: 1. pendekatan service triangle (segitiga layanan) merupakan suatu model manajemen layanan yang mencerminkan hubungan antara lembaga pendidikan dengan para pengguna jasa pendidikan. Model ini terdiri dari tiga elemen yaitu (service strategy, service people, service system). 2. pendekatan total quality service (TQS) merupakan suatu keadaan ketika sebuah lembaga pendidikan memiliki kemammpuan untuk memberikan pelayanan bermutu kepada para pelanggan maupun pemilik lembaga pendidikan dan pegawainya. TQS memiliki lima elemen yang saling terkait satu sama lain yaitu, (market and custamer research, strategy formulation, education traning and communication, process improvement, assessment, measurement and feedback).

  1. UPAYA-UPAYA PERBAIKAN LAYANAN PADA LEMBAGA PENDIDIKAN

Upaya perbaikan layanan pada lembaga pendidikan tidak sesederhana yang dipikirkan karena masalah layanan yang tampak belum tentu merupakan permasalah yang sebenarnya. Bisa jadi persoalan yang tampak hanya merupakan gejala dari persoalan lain yang tidak tampak. Untuk mengidentifikasi dan mempermudah pencarian persoalan-persoalan mutu layanan, heskett et. Al. (1997: 16) memberikan sebuah konsep yang disebut dengan service profit chain.

BAB 6 KERANGKA KERJA TIM DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

Halaman 129 – 150

  1. TRANSFORMASI INDIVIDU MENUJU TIM

Sebuah tim kerja tidak terbentuk secara kebetulan atau tanpa direncanakan sama sekali, menurut stoner (1995) dalam budi sutedjo (2002: 232). Ada lima tahap terbentuknya sebuah tim kerja yaitu: pembentukan, konflik, pemantapan norma tim, berprestasi, pembubaran.

  1. TIM KERJA LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM REVOLUSI INFORMASI

Akibat revolusi informasi, data dan informasi mengalir keseluruh sudut dunia seperti kecepatan cahaya dan tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun. Revolusi informasi memperjelas kenyataan cepatnya waktu yang membuat setiap organisasi seperti halnya lembaga pendidikan tenggelam ke pusaran samudra informasi.

  1. PENDEKATAN KOMPETENSI SEBAGAI ACUAN PENGEMBANGAN KARIER INDIVIDU DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

Arthur andersen mendefinisikan kompetensi sebagai karakteristik dasar yang terdiri dari kemampuan, pengetahuan, serta atribut personal lainnya yang mampu membedakan seseorang dari yang perform dan tidak perform. Ada lima karakteristik kompetensi yaitu, motives, trait, self concept, knowledge dan skill. Pendekatan kompetensi dapat digunakan untuk mengukur karier. Pendekatan kompetensi dikembangkan oleh lyle dab signe spencer memiliki 5 skala yaitu, intensitas kelengkapan suatu kegiatan, ukuran dampak, kompleksitas, jumlah usaha, dimensi unik.

  1. MENCIPTAKAN HUBUNGAN YANG HARMONIS DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

Untuk menciptakan hubungan harmonis dalam sebuah lembaga pendidikan, ada dua hal yang dapat dilakukan yaitu, menciptakan komunikasi dua arah dan menciptakan sistem pengembangan SDM yang terpadu.

  1. KONFLIK DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN SEBAGAI PERILAKU KOMUNIKASI

Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. tiga bentuk konflik dalam sebuah lembaga yaitu, konflik pribadi, antar pribadi dan lembaga.

BAB 7 PERANAN SIM DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN BIDANG PENDIDIKAN

Halaman 151 – 180 

  1. PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan  yang menurut perhitungan merupakan tidakan yang paling tepat (S.P. Siagian dalam iqbal Hasan, 2002:10).

  1. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah posisi atau kedudukan, masalah, situasi, kondisi, tujuan. Pendapat lain mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan kep[utusan adalah keadaan internal organisasi, keadaan eksternal organisasi, tersedianya informasi yang diperlukan, kepribadian dan kecakapan pengambilan keputusan.

  1. PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PERSPEKTIF INFORMASI

Pada prinsipnya seorang pimpinan lembaga pendidikan selalu mencari perilaku yang rasional dalam bertidak. Namun karena pimpinan tersebut memiliki keterbatasan dalam kapasitas kognitifnya, informasi dan nilai-nilainya, harus dicaei informasi terhadap alternatif yang mungkin diambil serta konsekuensinya yang menyertai setiap alternatif.

  1. JENIS-JENIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Jenis-jenis keputusan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang dan secara garis besar dikenal tiga jenis keputusan yaitu keputusan berdasarkan tingkat kepentingan, keputusan yang berdasarkan regularitas, keputusan berdasarkan lingkungan.

  1. SISTEM INFORMASI FUNGSIONAL MANAJEMEN PENDIDIKAN

Keputusan yang akan di ambil sebagai pemecahan masalah yang dihadapi lembaga pendidikan akan didasarkan atas sistem informasi fungsional manajemen pendidikan. Sistem informasi fungsional manajemen pendidikan mencakup sistem informasi manajemen keuangan, sistem informasi manajemen SDM, sistem informasi manajemen operasi, sistem informasi manajemen pemasaran. 

KESIMPULAN

            Dari keseluruhan uraian sistem informasi manajemen pendidikan, yang perlu menjadi bahan pemikiran adalah bagaimana menciptakan sistem informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan bidang pendidikan agar pemecahan masalah yang dihadapi manajemen pendidikan dapat diselesaikan secara tepat.

PENUTUP

            Penulis resume menghimbau kepada pembaca setelah membaca hasil resum buku sistem informasi manajemen pendidikan ini, kami harap membaca juga buku aslinya dikarenakan apa yang ada dalam hasil resumean ini belum begitu cukup mewakili buku yang berketebalan 180 halaman. Buku ini cukup bagus karena dapat memberikan inspirasi kita untuk membuat lembaga pendidikan yang mempunyai daya saing tinggi dan berkualitas. Penulis hanya mengambil poin-poin yang dirasa penulis anggap inti. Ababila dalam hasil resume ini terdapat kata-kata atau kalimat yang salah atau tidak tepat secara keilmuan dimohon menghubungi penulis hasil resume ini. Terima ksih semoga bermanfaat untuk kita semua. Amin

Leave a comment

Filed under Uncategorized